Senin, 01 Juli 2013

Horee Family Trip (2)

Packing kali ini cukup melelahkan, kendati perlengkapan tak begitu banyak. Tapi begitu banyak pernak-pernik yang harus dipikirkan.

Apalagi anak-anak cenderung menunda-nunda menyiapkan perbekalan mereka sendiri. Jadilah aku harus gerak cepat menyiapkan semuanya.

Semula aku menjadikan perbekalanku dan dua anak terkecil menjadi satu backpack. Tapi hubby menyarankan anak2 semua membawa keperluannya dalam tas masing-masing.

Odie sudah sadar diri mengisi ransel sekolahnya dengan baju yang sudah kusiapkan. Tapi Kaka si bungsu, malah sibuk menyiapkan notes, dompet, pensil warna, yang lalu dimasukkan dalam tas selempang India. Ia menolak bawa tas selain itu. Girly memang dia!

Riweuh

Kupikir suasana saat itu mirip film keluarga Home Alone. Anak-anak mulai ribut bertanya barang-barang pribadi yang sebaiknya mereka bawa. Alhasil anggota keluarga bersliweran mengambil ini-itu. Aku sibuk memesan taksi sambil sesekali menjawab pertanyaan hubby dan anak-anak.

Jelang berangkat anak-anak baru menyadari sebuah perjalanan akan ditempuh. Si sulung sibuk mencari peniti dan bros untuk kerudungnya. Ia sedang senang memakai kerudung kain, setelah biasanya berkerudung bergo.

Anak lelaki kedua masih sibuk dengan gadgetnya dan cenderung tak masalah dengan jenis baju yang kusodorkan untuk dibawa. Langsung dimasukkan ke backpacknya sambil terus mengikuti irama musik dari headset.

Keributan terjadi pada dua anak terkecil. Selalu saja ada topik yang menjadi bahan ledekan atau tangisan. Bagi kami, itu tanda peringatan mereka sudah tak sabar memulai perjalanan.

Insiden di Depan Stasiun

Demi menghemat waktu, kami mencarter taksi ke stasiun Serang. Anak-anak memasukkan tasnya ke bagasi mobil dan segera masuk taksi. Hubby bertugas mengunci dan menyerahkan kunci ke relawan, untuk menyalakan lampu rumah dan berjaga.

Berdempetan kami berempat di jok belakang, sementara hubby dan Odie di jok depan. Sempat ada perebutan kursi jok belakang, karena Kaka tidak terima tempat duduknya sempit. Hihihi..

Perjalanan menuju stasiun lancar jaya. Hanya ketika sedang mengambil barang-barang di bagasi taksi, dua motor bertabrakan persis di belakang kami. Untunglah lalu lintas tak begitu ramai. Anak-anak jadi konsentrasi ke insiden itu. Empati mereka tumbuh karena salah satu korban tabrakan itu anak kecil.

Sambil berjalan memasuki stasiun mereka membicarakan kronologi tabrakan itu, yang berawal dari keraguan motor pertama hendak belok kanan, sehingga ditabrak motor belakangnya.

Setelah tiket terbeli, aku membagikannya berdasar nama masing-masing. Agak berisiko memang, takut hilang di tangan anak-anak kecil. Tapi kami mencoba menanamkan tanggung jawab pada mereka.

Pindah Commuter Line

Setelah menikmati perjalanan Serang-Tanah Abang, dengan hidangan pemandangan pepohonan, kami harus ganti Commuter Line.

Turun dari kereta kami naik tangga menuju lobby loket. Ramai sekali. Jadi ingat stasiun di Hazrat Nizamudin, New Delhi. Tapi kebersihan masih menang Tanah Abang, sih:D

Aku dan anak-anak duduk menunggu hubby antre tiket. Tidak ada komplen lapar dan haus dari anak-anak berkat bekal makanan dan minuman yang cukup dari belanjaan Gab sebelumnya.

Kami lalu turun ke peron 3, bergabung bersama ratusan calon penumpang berdiri di sepanjang peron. Berkali-kali kami harus mengingatkan anak-anak yang besar karena keinginan mereka aneh-aneh.

Mulai dari berdiri terlalu di tepi peron, melongok ke rel atau tergoda main gadget. Kami sudah mewanti-wanti untuk tidak menggunakan gadget di tempat keramaian seperti stasiun. Toh tidak urgent juga.

Lalu datanglah commuter line yang melintasi tujuan kami: Stasiun Kalibata.

Tapi untuk naik saja perlu perjuangan luar biasa. Kerumunan penumpang turun seperti menjatuhkan tubuhnya begitu saja. Dan baiknya calon penumpang dengan sadar memberi jalan.

Lalu setelah berhasil naik, penumpang berdesakan, berebut ring plastik yang menjadi tumpuan. Dua anak terkecil mulai ribut. Mereka agak kaget dengan kondisi yang dihadapi. Baru kali ini naik kendaraan umum berjejalan seperti itu.

Bagi anak remaja ini jadi pengalaman baru. Sedangkan buat bapak-ibunya ini seperti deja vu pada suatu ketika. Lha buat anak-anak kecil, ini adalah bencana!

Seperti apa kericuhan yang terjadi, ceritanya terlalu panjang, jadi saya tulis di bagian 3 ya :D

Jumat, 28 Juni 2013

Horee Family Trip

Setelah lama menunda traveling sekeluarga, akhirnya kami melakukannya juga. Anak kedua kami pulang liburan dari sekolahnya di UAE. Inilah saat yang tepat untuk jalan bersama dengan formasi lengkap!
Kebetulan ada jadwal launching buku hubby "The Gong Traveling" di toko buku Leksika kalibata City Square di Jakarta. Anak-anak sedang dalam masa libur sekolah, jadi kami ajak ikut ke Jakarta.
Naik Kereta Api, tut tut tuuut
Moda transportasi yang dipilih adalah kereta api Merak-Tanah Abang, yaitu Kereta Kalimaya. Kereta berpenyejuk udara ini berangkat dari stasiun Serang dalam 2x sehari, pukul 06.00 dan 14.00.
Dua minggu sebelumnya aku sendirian naik kereta ini ke Rangkasbitung. Dengan kondisi yang lumayan nyaman dan harga terjangkau, kami memutuskan untuk mengajak anak-anak merasakan nikmatnya traveling dengan kereta.
Tiket seharga Rp 20.000,- kereta Kalimaya menjadi transportasi alternatif bagi kalangan menengah. Jarak tempuh Serang-Rangkas dicapai dalam setengah jam. Lebih cepat dan lebih nyaman dibanding dengan bus yang hanya ada di pagi hari, atau minibus yang harus beberapa kali ganti jurusan.
Sebenarnya ada jenis kereta lain, Banten Express yang beroperasi satu jam lebih lambat dari Kalimaya. Tiketnya pun hanya Rp 5.000,- selama bulan promosi. Tapi kondisi keretanya tanpa penyejuk udara dan jarak tempuh untuk rute sama lebih lama. Belum lagi aneka barang yang dibawa para penumpang menimbulkan aroma tersendiri.
Pilih Kursi Sesuka Hati
Pukul 13.58 kereta berangkat dari stasiun Serang. Tak begitu banyak penumpang. Anak-anak pun masih tampak enjoy.
Sambil menunggu jadwal kereta, Gabriel, anak kedua membeli perbekalan logistik di waralaba terdekat. Begitu ia tiba, tiga kantung plastik besar berisi 8 botol pulpy orange, 3 botol softdrink, 4 botol air mineral, beberapa bungkus keripik kentang, sebungkus roti sobek, permen dan 4 bungkus nori kering. Sungguh, belanjaan paling banyak yang pernah kami siapkan untuk kategori traveling singkat.
Tapi ternyata selama perjalanan perbekalan itu amat berguna. Karena kereta beberapa kali berhenti di stasiun kecil cukup membosankan bagi anak kecil. Rengekan dapat diredam dengan camilan, di samping cerita dan game. Sedangkan untuk anak remaja ditambah kebutuhan koneksi internet pada gadget yang lancar jaya demi socmed.
Dan ada yang lucu saat kami mencari tempat duduk sesuai tiket. Enam nomor kursi kami sudah terisi penuh oleh ibu-ibu dan anak-anaknya. Nomor kursi mereka berselisih dua baris di gerbong yang sama. Rupanya mereka seenaknya saja memilih kursi. Baiknya, mereka pindah dengan suka rela begitu diminta.
Tapi bagasi mereka tak ikut pindah! Dan rombongan ibu itu anteng saja tak peduli. Aku jadi bingung mau menyimpan empat backpack, karena rak atas telah terisi 3 buah dus besar. Hubby memanggil petugas yang lewat, untuk membantuku menurunkan kardus-kardus itu.
Barulah ibu-ibu itu berteriak heboh meminta kardus-kardusnya. Hehehe... Aku cuek saja menurunkan kardus-kardus berat itu dibantu hubby dan petugas. Dan harumnya ikan asin dalam kardus begitu menusuk hidung dan perut!
(Bersambung)













Sabtu, 19 Januari 2013

Selamat Ultah Pertama KEB : Muka Lama di Luar Kaca

Menyadari berasal dari generasi beda zaman, membuat saya berpikir panjang setiap kali bersentuhan dengan sesuatu yang berhubungan dengan social media. Apalagi kiblat dan kiprah socmed lebih sering berada di seputaran Jakarta. Saya yang berada di radius luar seringkali hanya bisa gigit jari.

Tapi saya tidak ingin ketinggalan. Diam-diam dan tidak menghanyutkan, saya memperhatikan teman-teman yang aktif di social media. Facebook, twitter dan blog. Begitu ramai di sana. Seperti memiliki lahan dan rumah di dunia baru, yang bebas diisi sesuka hati.

Dan saya mencoba mengikuti. Sempat juga jadi facebook addicted. Sampai kemudian keranjingan twitting, dan dijuluki Ms Tweet oleh suami. Hehehe...

Sendiri dan Rahasia

Tapi, lama sekali saya berani mencoba blogging. Membuatnya sudah, tapi mengisi dan menatanya, butuh keberanian. Saya takut karena satu hal: tidak tahu caranya. Bodohnya, saya malu untuk bertanya. Bukan takut ketahuan bodoh, bukan begitu. Saya hanya merasa begitu rumit untuk mengurus sebuah blog. Dan saya menyerah. Sebuah lahan di wordpress terbengkalai. Lama. Satu lagi: sendirian, tak punya tetangga. Saya tidak memberitahu siapa pun kalau saya sudah membuatnya.