Kamis, 09 Januari 2014
Rabu, 08 Januari 2014
LELAKI PEJALAN: FAJAR (2)
BERPISAH
13
Mengejar
fajar menggelegar debar
Jika mampu, aku memilih memulai
perjalanan saat fajar. Agar lama memiliki waktu merekam jejak matahari. Juga
tak perlu berlama-lama menunggu waktu melangkah tiba.
Berpamitan menjadi saat berat.
Sepertinya kakiku ditanam dalam tanah. Berurat, berakar.
Seharusnya pelukan mengalunkan irama
jantung. Perlahan mencerabut beban. Tapi ia hanya memiliki debar bertalu-talu
menghantamku bimbang.
Aku tak pernah menyukai perpisahan. Tapi
apa harus kulakukan jika mundur begitu saja? Pasti akan jadi bisul yang tak
pecah-pecah. Dan perempuanku pun tak akan suka. Baginya, langkah kebaikan yang
sudah ditetapkan niat dan persiapannya, tak boleh dihentikan. Ia menitipkan
percaya dalam debar jantungku.
*
14
Butuh
percaya untuk memulai langkah
Bukan sia-sia Tuhan menciptakan rasa
percaya. Perekat dua pribadi berbeda, penawar endemi curiga.
Saat merasa cocok, sepasang manusia
mengatasnamakan sehati-sejiwa. Tapi kadang cemburu mengacak tatanan bunga di
taman hati. Siapa di antara dua manusia itu dapat menolak? Tuhan menghadiahi
cemburu karena mereka mengaku saling memiliki. Sekaligus memberi jarak untuk
sendiri, walau tak sampai benci. Kepercayaan bukan harga mati. Tapi kadang tak
bisa ditawar-tawar.
*
15
Makhluk
ajaib adalah kamu
peta
tak bertepi.
Senin, 06 Januari 2014
LELAKI PEJALAN : FAJAR
PACKING
1
Setiap
mekar cinta
kusimpan
selembar kelopaknya
pengingat
musim berbeda.
Aku sebenarnya risih jika dia
mengirim pesan samar. Mulai dari ujung terang matahari, hingga temaram senja.
Kode-kode dikirimnya seperti lesat anak panah. Satu persatu. Parahnya, aku
merasa tertancap. Tanpa rasa sakit. Bahkan menikmati.
Lelaki macam apa aku! Lengan boleh
besar dan kuat. Tapi menghadapi panah-panah virtual berkode itu aku melempem.
Seperti kerupuk tercelup dalam kuah. Nyess.
Tapi ia memekarkan semua kelopak
semangat. Caranya melipat sweater usangku dan menyembunyikan utas benang yang
mencuat. Lamban atau terlalu hati-hati.
Tapi aku menyukainya. Wajahnya tak berpaling sebelum seluruh baju masuk dalam
backpack.
Dan tiap kubuka backpack di tempat
tujuan, aku seperti menemui selembar kelopak cintanya. Begitu terus setiap
perjalanan.
*
2
Kita
masih mencari, sebuah
Nuun
hingga
tak terucap
kata
semarak.
Aku lelaki ramai. Tak suka tempat
sepi, kecuali saat kontemplasi. Aku suka bercakap-cakap dengan orang-orang
tentang banyak hal. Membuatku belajar ilmu baru.
Lelaki yang riuh, sebutnya. Ya, biar
saja. Aku tidak mau mengubah diriku menjadi orang lain. Sesekali bicara keras.
Marah dan mengancam karena benar. Menggebrak meja kalau perlu. Riak dalam
hidupku yang keras. Karena harus teguh pada yang kuyakini.
Di sampingnya, perdebatan jadi
sebuah simponi. Kami memilih nada-nada dan membahasnya. Syahdu. Dan aku merasa
seimbang. Gelegak magma dalam hati dan otakku menjinak. Banyak nada yang harus
dipelajari, sumbangkah iramanya?
Aku mengenang percakapan syahdu itu
di setiap perjalanan sepi. Sepertinya sekelilingku menyanyikan himne kami.
*
Langganan:
Postingan (Atom)