Sabtu, 30 September 2017

Generasi Jaguar (6) Pagi Selalu Istimewa

Pagi hari di Cirebon, kami masih punya waktu sampai pukul 10.00 untuk jalan-jalan. Berhubung anak-anak masih ingin santai di hotel, cuma saya, suami dan si bungsu yang berniat jalan pagi.
            Menjadi kebiasaan suami untuk mendatangi public area  di tempat baru. Di sanalah napas kebudayaan sebuah pemukiman. Tidak ada yang menemani pun beliau akan jalan sendiri.
“Pagi hari di tempat baru sangat istimewa,” katanya suatu kali saya malas menemani. Soalnya sudah biasa menghadapi yang begini. Hahaha.

Selasa, 26 September 2017

Generasi Jaguar (5) Stasiun Cirebon dan Empal Gentong

        Sore harinya kami jalan ke stasiun Cirebon. Ini bagian dari mengenalkan lingkungan sekitar, di mana pun berada. Anak-anak sudah tahu apa yang akan dilakukan, memotret landmark dan belajar sejarah tempat tersebut.
Suami saya adalah orang yang sangat bersemangat soal ini. Ke mana pun kami pergi, ia akan mengajak untuk menjelajahi sekitar. Jika ada cerita sejarah terkait, dengan bersemangat akan diceritakannya untuk kami. Sudah banyak tempat terutama di Pulau Jawa yang didatanginya sejak lajang, sih. Jadi kadang kami bertanya ‘tempat mana saja yang belum dikunjungi’, bukan yang sudah. Hahaha.
Seringkali pula suami mengingat-ingat, “Aa dulu ke sini tahun berapa, ya… Bangunannya masih sama, ada tambahan bangunan yang itu, yang ini, yang sana…”

Senin, 25 September 2017

Generasi Jaguar (4) Di Cirebon, Kita!

           Alhamdulillah jalur ke timur lancar jaya. Mungkin karena sudah mulai arus balik lebaran, lebih banyak kendaraan menuju ke barat.
            Dibanding saya, suami lebih bisa mencairkan suasana di perjalanan. Baru keluar dari Jakarta, saaya sudah uring-uringan menghadapi Odie dan Azka yang bertengkar melulu. Wajar sih, gara-gara tempat sempit. Tapi heran juga, biasanya saya bisa sabar menghadapi anak-anak, tapi kenapa mendadak ingin marah.
            Curiga sedang PMS (pre menstruation syndrome), saya beritahu suami. Dia paham kondisi saya. Itulah kenapa sepanjang perjalanan hari itu ia berperan lebih banyak, sebagai sopir, pendongeng, penghibur dan penyulut semangat. Sedangkan saya jadi tim hore buatnya, sambil meringkuk di antara barang bawaan yang belum ditata ulang.

Minggu, 24 September 2017

Generasi Jaguar (3) Langkah Awal Selalu Mengejutkan

             Pagi hari, Jumat, 30 Juni 2017. Bertempat di pendopo dalam Rumah Dunia, kami sarapan bersama. Menunya nasi uduk dan lauk goreng. Sehari sebelumnya Odie sudah memesan 25 bungkus nasi uduk di warrung Bi Sariyah, langganan kami.
            “Biasanya Mamah yang pesan-pesan begini,” cetus Odie saat saya minta tolong memesan nasi. “Jadi kalau ada yang habis atau nggak ada, bisa ganti beli yang lain.”
            Saya tersenyum, mengerti maksud anak ketiga kami itu. “Iya, A. Tapi sekarang Mamah lagi sibuk-sibuknya packing. Jadi, apa pun yang Aa bisa pesan untuk besok, silakan. Terserah Aa yang memutuskan, kalau nggak ada ini ya pesan itu.”
            Jadi introspeksi buat saya, barangkali bagi orang lain saya tampak perfeksionis. Meski saya sendiri tidak merasa begitu, tapi keraguan Odie melakukan permintaan saya telah membuat saya seperti diperingatkan.
            Astaghfirullah. Harus banyak istighfar, mungkin selama ini tanpa sadar saya sudah menuntut terlalu banyak dari anak-anak. Teringat saat saya memberi tugas dan mereka keberatan, saya akan keukeuh tidak beranjak sampai mereka bersedia menjalankannya.

Sabtu, 23 September 2017

Generasi Jaguar (2) Rute Angka Delapan

         Setelah berdiskusi dengan suami perihal deskripsi Generasi Jaguar, gantian saya presentasi di depan anak-anak. Termasuk memotivasi mereka untuk tampil bersama kami. Meski hasilnya tidak mengubah sikap anak-anak yang menolak tampil, saya tidak mempermasalahkan. Mereka harus tahu bahwa orang tuanya kompak, dan berniat mengajak kepada hal-hal baik dan maju.
            “Kalian punya potensi dan bakat. Sayang jika tidak dikembangkan dan diasah. Toh sepanjang perjalanan nanti kalian tampil di hadapan orang asing, yang kalian tidak kenal. Setelah tampil pun mungkin nggak ketemu lagi. Jadi tidak ada alasan untuk malu,” kompor saya berapi-api.
            Tapi anak-anak tetap pada pendiriannya. Semua memilih membantu di belakang layar. Baiklah, kami tak memaksa.
            Jadilah kami putuskan traveling selama 30 hari sekaligus pelatihan menulis di beberapa kota sepanjang Serang-Solo pulang-pergi. Anak-anak setuju dengan syarat berangkat setelah lebaran. Kami mulai berbagi tugas. Suami menyusun agenda, menghubungi teman-teman penggiat literasi dan kepenulisan, menawarkan pelatihan yang dibutuhkan komunitas mereka, menyiapkan buku-buku yang hendak dijual. Saya kebagian tugas menyiapkan mental anak-anak untuk bepergian bersama dalam waktu lama. Juga memotivasi mereka untuk melakukan apa saja yang mereka sanggup untuk kegiatan ini.

Jumat, 22 September 2017

Generasi Jaguar (1)

SEBUAH IHWAL

        Hal yang paling menakutkan adalah mendengar ide suami yang “nyleneh”. Jika idenya biasa saja saya juga akan menanggapi dengan biasa. Tapi kalau idenya tidak biasa dilakukan orang, itu yang membuat saya takut.
Sebenarnya ketakutan saya itu lebih pada menghadapi tantangan selama ide itu dijalankan dan pandangan masyarakat umum terhadap langkah kami. Beruntung suami sangat hati-hati memaparkan idenya, setahap demi setahap sehingga saya bisa berpikir jernih. Meski didera ketakutan yang tidak ketahuan juntrungannya, saya mencoba memikirkan semua aspek ide tersebut.
Seperti suatu sore di bulan Mei 2017. Sambil rebahan di lantai ruang tengah, suami berkata, “Kita mudik sekeluarga, yuk!”
Mudik bagi saya adalah peristiwa mewah mengingat jarak hampir setengah Pulau Jawa harus kami tempuh. Belum lagi biayanya, bagi kami yang bukan golongan bergaji tetap ini harus disiapkan jauh-jauh hari. Tapi ajakan suami amat menggoda. Anak-anak pun akan suka bertemu Eyang dan semua saudara di sana.
“Serius?” kejar saya menunggu jawaban.
“Iya, hayulah, sambil keliling Jawa, satu bulan. Sambil memberi pelatihan menulis dan jualan buku. Biayanya dari situ.”
Saya terdiam. Ini bukan hal aneh kami bepergian untuk mengisi sesi pelatihan menulis dan berdagang buku terbitan Gong Publishing. Tapi satu bulan, itu lama sekali.

Sabtu, 04 Februari 2017

AKU MELAHIRKAN IBU


Entah kenapa tiba-tiba pengin nulis ini. Padahal bukan pasca melahirkan, ngidam juga bukan. Tapi selalu  senang mendengar kabar kehamilan dan kelahiran teman-teman. Pasti kebahagiaan berlipat ganda sedang menyelimuti mereka. 

Pun untuk beberapa nama yang teringat belum memiliki keturunan, dalam diam kumohonkan izin-Nya agar dititipkan-Nya amanah janin dalam rahim para perempuan yang sabar itu. Beberapa yang kemudian mengabarkan pada semesta kehamilan yang amat ditunggu, membuatku ikut bersyukur doaku diijabah. Padahal mungkin upaya dan doa perempuan dan pasangannya itu jauh lebih besar dari doaku. Padahal mereka pun tak tahu aku mendoakan, dan biarlah jadi rahasia antara aku dan Allah. Membahagiakan orang lain tanpa sepengetahuan mereka adalah kenikmatan cinta pada-Nya. 

Memiliki anak memang anugerah yang tak habis dikatakan. Kisah tentang kanak-kanak tak pernah menjemukan,  selalu menjadi penghibur hati dan tubuh yang berat karena usia. Lalu muncul penyesalan-penyesalan tidak maksimalnya sebagai orangtua mengasuh dan mendidik mereka saat kecil. Juga kekhawatiran akan hidup anak-anak setelah orangtua tiada, padahal apalah orangtua yang juga manusia,  bukankah IA Sebaik-baik Penolong, dan sering dilupakan.  *istighfar*

Melihat anak-anak tumbuh dewasa,  makin mengingatkan saat mereka kecil, bahkan detik-detik kelahiran. Rasa sakit mulas rahim yang ambangnya berbeda tiap anak,  segera saja terlupa begitu melihat geliat bayi merah. Kemana perginya penderitaan selama menunggu pembukaan lengkap? Mana rasa sakit dan kecemasan saat mengejan? Bayangan kematian yang terasa amat dekat tadi pun lenyap. Entahlah, semua seperti khayalan.  Dunia tampak berubah begitu saja saat mereka hadir. 

Hari-hari menjadi berbeda, digerus keletihan dan keharusan terjaga saat tubuh meminta rehat. Ada kalanya ketidaksiapan itu menjadi bumerang yang siap saling menyalahkan. Fase saat perempuan menjadi amat labil dan jika tidak berdaya akan menganggap segala kesalahan adalah miliknya. Karenanya. Saat seperti ini dibutuhkan dukungan tanpa pertanyaan dari pasangannya. Kalian,  para bapak tidak akan memperoleh jawaban atas ribuan tanya kenapa. Hujanilah dengan sentuhan sayang,  pelukan lembut dan pengertian seluas samudera. Itu cukup buat para istri. (oh jangan lupakan materi tentu. Nanti aku diamuk massa perempuan jika tidak memasukkan ini. Hahaha) 

Memiliki bayi adalah tanggung jawab bersama, begitu pun mendidiknya. Menjadi orangtua adalah fase terpanjang dan terberat. Beberapa teman mungkin memilih tidak mengambil peran itu karena merasa tak mampu memikulnya.  Padahal yakinlah,  begitu diamanahi janin,  tubuh dan jiwa sudah siap menjadi orangtua. Tinggal belajar lebih banyak lagi.

Belajar banyak hal baru yang semula diabaikan. Belajar sepanjang masa. Begitulah bayi memberi banyak hal,  sejak ia ada dalam rahim,  sebelum calon ibu tersadar. Ia bersemayam berbulan-bulan, mengajar dan menemani perempuan melewati proses panjang menjadi ibu. 

Ruang kerja, 30 Januari 2017
Terima kasih tak terhingga kepada ibuku yang karena beliaulah aku lahir dan menuliskan ini. Barakallah. 
*) judul ini beberapa kali melintas, merupakan judul puisi yang saya tulis beberapa bulan setelah kelahiran anak pertama.

Jumat, 28 Oktober 2016

Kedai Seni Djakarte di Kota Tua

Main-main ke sini sama anak-anak dan suami. Suka suasana Kedai Seni Djakarte di  jalan Pintu Besar Utara,  kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. 

Jika tempat lain mementingkan kesempurnaan bangunan,  kedai ini tampaknya ingin menyuguhkan persepsi berbeda. Dinding mengelupas,  anak tangga marmer, meja dan kursi bocel-bocel, selama masih aman tak apa.

Representatif buat yang suka suasana "djadoel" terpadu dengan kekinian kayak saya. Furnitur menggunakan kursi kayu yang antik.Sementara interiornya dipenuhi kenangan 80-an ditandai deretan kaset penyanyi lawas, sebagian masih eksis. Lewat sampul kaset pula saya melihat wajah Rossa berpuluh tahun lalu saat merintis karir musik. Saya juga diingatkan ada penyanyi bernama Fryda, Iga Mawarni dan lain-lain yang entah sekarang kabarnya.

Saya seperti ditemani kenangan masa itu,  di tengah menu kekinian. Banyak pilihan makanan dan minuman yang sepintas bersilangan. Itulah kuliner,  rasa boleh beda tapi lidah tak membedakan masa. Sajian berbau tradisional,  bir pletok dingin hadir dalam gelas toples dan sedotan besar. Rasa jahe merah dan kapulaganya menyuguhkan sensasi hot tingkat dewa.

Untuk makanan beratnya saya memilih soto betawi yang rasanya sesuai ekspektasi saya. Ada gurih manis sehar dalam kuah bersantan, apalagi setelah dikucuri perasan jeruk nipis. Potongan dagingnya cukup sekali suapan,  dengan rasa bumbu dan empuk. Sambal rawitnya juga uhuy.

Yang ingin mencoba aneh pun ada. Minum dari toples kecil. Ada campuran potongan buah,  sirup,  es dan soda dalam sebuah toples bertutup. Cukup menggoda selera.

Pelayanannya sigap,  ramah, dan jangan kaget pelayannya banyak bertato. Ini perlu saya tulis karena biasanya banyak yang judge orang bertato pasti sangar. Coba saja temui mas-mas di sini!

Pasti banyak yang ingin tahu soal harga. Melihat keberadaan di kawasan turis dan tampilan bangunan,  awalnya saya mengira harga makanan dan minuman pasti mahal. Alhamdulillah masih terjangkau dompet,  berlima habis Rp 239.000,- untuk 2 bir pletok panas dan dingin,  2 bakmi goreng, 1 mie siram, 1 soto betawi, 1 NBA, 2 es teh manis, 2 gelas taro ice (yang ini buat dua bocah penggemar taro float).

Seperti biasa cicip-cicip pesanan anak-anak,  dan saya suka semuanya. Oh ya,  yang belum tahu NBA,  itu bukan semacam pertandingan basket tapi singkatan dari nasi bakar ayam. Demikian.

Jakarta,  28 Oktober 2016

#bukanbuzzer
#kedaisenidjakarte #jakarta #kotatua #trip #travel #GongTraveling #coupletraveler #couplewriter #gongtias #life #travelingwithfam #hangout #kafe

Minggu, 09 Oktober 2016

Blind Traveling

Mumpung ada kesempatan,  mengajari traveling naik moda transportasi darat ke anak-anak. Menggunakan quality time sebaik-baiknya,  selama kami masih bisa melakukan.
Rencana harus dibuat, tapi tidak begitu detil. Berisiko memang,  mengingat anak-anak sudah nyaman naik kendaraan pribadi. Saya sudah membayangkan akan ada protes capek,  lapar, bau, berisik dan sebagainya. Belum lagi kepastian rute dan transportasi, termasuk jadwal berangkat.
Setelah yakin kondisi kami fit, rencana yang sudah disusun lama siap dilaksanakan. Kebetulan ada momen kondangan salah satu relawan #RumahDunia di Karawang. Bismillah, insyaa Allah siap bepergian.
Selalu ada perubahan di itinerary yang fleksibel. Semula tujuan awal stay di Bogor atau Karawang. Tapi saya agak ragu jika di kota hujan tanpa berkendaraan pribadi. Terbayang gonta-ganti angkot sambil manggul backpack. Opsi terbaik sepertinya adalah Karawang,  apalagi setelah browsing tujuan wisata alami di sana. Ke tempat kondangan (masih di wilayah Cikampek) juga tidak jauh. Rencana tetap harus dibuat,  meski pelaksanaannya dikembalikan pada ketentuan-Nya.
Akhirnya saat antri tiket hari itu untuk kereta jurusan Cikampek di Stasiun Kota Tua,  Golagong New putar haluan. Betapa tidak? Seratusan orang telah duduk di lantai stasiun,  membentuk antrean panjang dan mengular puluhan meter! Padahal loket baru dibuka sejam lagi. Kereta berangkat satu jam setelah loket buka. Kami berhitung kemungkinan waktu yang dihabiskan untuk mendapat tiket. Setiap calon penumpang harus mengisi formulir pemesanan, lalu menunggu proses bayar dan cetak tiket. Kira-kira per tiket perlu 3-4 menit untuk diproses. Kalikan saja dengan seratus orang, asumsinya setiap orang beli satu tiket. Ada dua loket yang melayani. Tambah lagi kami belum makan siang. Dengan hitungan kasar, kami putuskan tidak dapat mengejar waktu keberangkatan sore itu. Pilihan menginap di Karawang pun mulai sirna.
Mengingat kesehatan saya yang sempat drop beberapa hari sebelumnya, hubby menawarkan menginap saja di kawasan Kota Tua.Anak-anak sih setuju, alasan yang membuat saya bersepakat. Meski agak khawatir juga karena saat browsing penginapan di dekat Kota Tua via online sudah penuh.
Setelah piknik sebentar di tengah gerimis di kawasan Kota Tua,  kami hunting penginapan dengan jalan kaki. Hubby lumayan hafal jalanan Jakarta, jadi saya pasrah saja sebagai followernya. Sampailah ke hotel T yang colourful, tempat sama yang saya browsing sebelumnya. Saya berharap jika pesan langsung masih ada kamar. Apalagi harga per malam masih masuk dalam budget kami.
Tapi apa daya. Ternyata hotel penuh.  Padahal anak-anak suka sejak pertama masuk, apalagi ada noni bule cantik yang senyum-senyum ke arah kami. Kami pun bersiap cari hotel lain, dan berlabuh di The Plaza Hotel di kawasan Pinangsia. Alhamdulillah bisa rehat semalam menyandarkan lelah dan kantuk. Malam minggunya kami habiskan lagi di Kota Tua,  tapi hanya sebentar karena gerimis memburu serupa hujan. *tsaah*
Pagi ini memburu kereta ke Cikampek, untuk kondangan om Muhzen Den dan Lina Astuti. Semoga masih kebagian makanan. Hehehe. Udah kebayang kondangan bawa backpack dan badan bau matahari.
Ini blind traveling pertama buat Jordy Alghifari dan Natasha Azka. Sebelumnya sudah sekian kali dilakukan saat Nabila Nurkhalishah dan Gabriel Gee masih balita dan belum punya adik. Bukan saran yang harus dilakukan,  karena bergantung kesiapan ortu dan anak. Juga situasi dan kondisi.
Yang jelas,  banyak hal diperoleh dari perjalanan tak menentu model ini.
Bersusah payah antre tiket, bertemu banyak orang dengan banyak profesi, jalan kaki dari stasiun kota, belajar transaksi,  naik bajaj berempat, wawancara dengan supir bajaj, sarapan di Terowongan Penyeberangan Orang (TPO), kedekatan sebagai keluarga dan masih banyak lagi.
Dalam kereta ekonomi lokal,  9 Oktober 2016

Rabu, 15 April 2015

Nikmat Pagi Hari

Di tempat baru,  pagi adalah saat yang kami tunggu. Tak sabar rasanya menikmati keindahan dan suasana sekitar,  juga berinteraksi dengan masyarakat.

Seremeh apa pun,  tiap jengkal tanah di bumi ini amat berarti.  Kita bisa belajar memperbaiki diri dan saling menasehati demi kebaikan. Adalah menyedihkan saat kita mulai tak peduli pada orang lain.

Begitu pun kami,  perbincangan tentang hidup dan berkehidupan bisa dimulai dari yang dilihat. Khaosan Road pagi hari yang mulai menggeliat,  ibu-ibu tukang sampah,  atau para monk atau biksu.

Para biksu ini pagi-pagi sudah berkeliling dengan membawa semacam bejana dari aluminium atau tembaga. Di beberapa tempat,  masyarakat sudah menunggu mereka dengan sekantung makanan. Para biksu menerima dan mendoakan mereka. Tak ada percakapan panjang,  bahkan seringkali tanpa suara. Hanya anggukan saling berterima kasih.

Di kuil makanan ini dikumpulkan dan disantap bersama-sama. Hubby bercerita ia sempat menginap di kuil dan diajak makan bersama. Mengetahui ia muslim,  biksu memisahkan makanan yang halal untuknya.

Sungguh pengalaman yang indah dan pelajaran bagus untuk saling menghargai. Benarlah Allah Maha Rahman dan Maha Rahim. Diberi-Nya nikmat merata bagi seluruh penduduk bumi. Ditambah-Nya lagi bagi yang beriman dan mau bertaqwa.

Maka untuk semua yang kami dapat,  nikmat-Nya mana yang dapat didustakan?

#GongTraveling #XploreBangkok #TravelerWife #travel #Thailand #Bangkok

Catatan:
Foto-foto ini diambil di Bangkok.
Yang mau ikutan trip Bangkok,   jadwal terdekat 27-30 Mei 2015.
Atau tentukan sendiri jadwal perjalanan,  nanti kami carikan grup.
CP 081906311007

Selasa, 14 April 2015

Tak Ada Pesta Usai di Khaosan Road

Seruas jalan bernama Khaosan ini jadi favorit kami tiap ke Bangkok. Saat ada waktu jalan berdua,  nggak bosan-bosannya lewat sini. Siang hari,  malam atau usai subuh.

Yang menyenangkan adalah pagi-pagi,  melihat orang-orang beranjak pulang setelah semalaman berpesta. Tak ada pesta usai sebelum pagi di Khaosan.

Bagi sebagian orang inilah jalan tempat yang haram ditemukan. Mungkin benar begitu.  Klub malam,  minuman keras,  dansa-dansi,  musik keras dan baju mini banyak beredar di sini.

Melewatinya membuat kami banyak belajar.  Ada dunia yang kami tak bisa menyesuaikan di dalamnya. Saat menyusuri ruasnya mengingatkan kami hidup akan selalu memiliki dua sisi. Bagaimana menyeimbangkan keduanya,  itu yang harus dipelajari.

Mau ikut traveling ke Bangkok? Ada jadwal 27-30 May 2015.  SMS/WA  081906311007.

#GongTraveling #XploreBangkok #TravelerWife #travel #Thailand #Bangkok

Senin, 13 April 2015

Hebatnya Tangan Manusia

Jika berada di sebuah tempat ,  salah satu yang jadi perhatian saya adalah suvenir. Bukan karena senang berburu oleh-oleh,  buktinya jarang sekali saya pulang dengan bawaan banyak.  Sudah pada hopeless kayaknya ngarepin saya bawa ini-itu.

Padahal saya paling suka mampir ke kios penjual cindera mata. Melihat-melihat pernak-pernik hiasan,  cara membuat,  bahan yang digunakan dan mengagumi kreativitas pembuatnya. Maha Suci Allah yang telah memberi ilham!

Ajaibnya,  tiap tempat memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Seperti contoh gambar ini.  Tas sebelah kanan saya beli di Deira,  Dubai. Meskipun belinya di Dubai,  tas itu diproduksi di India. Saya mendapat jawaban itu dari penjualnya yang juga orang India. Buat saya tidak masalah,  yang penting ada benda yang dibeli sebagai pengingat di sebuah tempat yang saya kunjungi. 

Kebanyakan motif India yang dijajakan di UAE berbentuk bunga-bunga. Ini mungkin terkait faham dalam Islam yang dianut di negara itu,  mengharamkan yang bernyawa untuk digambarkan. Meski hanya bunga-bunga,  tapi ia hadir dalam ribuan bentuk dan corak yang amat kaya. 

Tas sebelah kiri adalah tas yang saya beli di Chattuchak,  Bangkok. Belakangan dapat kabar sudah ada jenis ini di Thamrin City Jakarta dengan harga berlipat kali. Alhamdulillah,  yang Bangkok minded jadi bisa belanja di Jakarta.  Tapi ya,  tetap saja berbeda kenangan yang menyertainya :)

Detail andalan Thailand adalah gajah putih sebagaimana maskot negeri itu. Pokoknya gajah hadir di mana-mana,  jadi andalan di berbagai suvenir.  Warna gajah tak lagi putih melainkan berwarna-warni.

Dua tas ini dibuat massal,  dengan bantuan mesin jahit dan bordir. Tapi tetap saja membutuhkan sentuhan pengerjaan tangan manusia.  Pemasangan manik-manik kecil,  payet dan lonceng mungil masih memerlukan ketelitian manusia.

Karena dikerjakan tangan,  sesekali ada ketidaksimetrisan dan kesalahan pemasangan payet atau manik-manik. Saya baru sadar jika lonceng kecilnya tak ada di  sisi lain :(

Inilah yang saya suka dari handmade. Tangan manusia bukanlah komputer yang hanya menjalankan program dengan tingkat akurasi tinggi. Pengerjaan dengan tangan seringkali mengandung kesalahan-kesalahan kecil. Namun,  di situlah letak manusiawi.

#GongTraveling #XploreBangkok #Thailand  #TravelerWife #travel
#next #trip #Bangkok 27-30 May 2015
#Singapore  5-7 May 2015
CP 081906311007

Jumat, 10 April 2015

Jalan-jalan Tidak Harus Belanja

Seringkali saat kita bepergian ada banyak titipan permintaan oleh-oleh.  Bahkan ada yang menitipkan uang lebih dulu.  Acap kali hal ini jadi pertimbangan seseorang menunda bepergian hanya karena alasan tak memilki cukup uang untuk membeli oleh-oleh.

Buat saya pribadi,  oleh-oleh menjadi urutan ke sekian dari prioritas.  Pertama terkait ketersediaan uang,  kedua estimasi waktu,  ketiga bagasi,  keempat destinasi.  Kadang kala budget oleh-oleh menjadi yang paling akhir dipikirkan alias sisa bekal.

Biaya memang harus jadi hal penting yang harus dipikirkan dalam tiap perjalanan,  ke mana pun tujuannya. Tiket,  hotel,  makan dan transpor selama di lokasi harus tercukupi.  Di antara empat hal ini yang dapat diakali selama di lokasi adalah biaya makan.

Selama makan bukan di restauran mahal,  insyaa Allah uang cukup. Atau jika pergi bersama pasangan atau teman,  cobalah untuk sharing makan. Di beberapa negara menyediakan porsi besar,  cukup untuk makan sepiring berdua. Kecuali kalian gembul ^_^

Dengan memperhitungkan biaya makan inilah saya dan suami bisa menyisihkan dana untuk oleh-oleh. Tentunya tidak perlu diirit-irit ya :) Prinsipnya makan senang dan halal.

Soal waktu juga sering menjadi kendala berburu oleh-oleh.  Biasanya jadwal sudah tersusun dari pagi sampai malam. Jika sepanjang rute itu ada benda menarik,  saya akan tanya harga.  Target membeli,  seperti yang saya tulis,  melihat sisa uang. Paling tidak saya tahu harganya.

Biasanya saat bepergian dengan pesawat saya ambil non bagasi.  Otomatis saya harus menjaga agar barang yang saya bawa pulang tidak melebihi berat maksimum. Jika melebihi, risiko membayar harga per kilogram bagasi. Coba kalau uang sudah tinggal sisa,  mau bayar pakai apa coba?

Di tempat tujuan wisata seringkali sudah tersedia toko-toko yang menjual suvenir khas daerah tersebut.  Saran saya,  jangan terpengaruh untuk langsung membeli oleh-oleh yang bukan menjadi ciri khas tujuan wisata tersebut. Ada banyak jenis suvenir yang dijual di hampir semua toko cindera mata karena dibuat massal. Tapi ada yang benar-benar khas daerah tersebut yang sulit ditemui di tempat lain.

Meskipun membatasi diri belanja oleh-oleh,  saya tak pernah menahan diri jalan-jalan di pusat perbelanjaan tradisional atau modern. Itu olahraga bagi mata dan otak saya,  memberi stimulus bagi daya kreatif saya. 

Seperti saat di Chattuchak,  saya lebih banyak mengingat-ingat model dan bahan beragam suvenir.  Inj karena kebanyakan pedagang tidak mengizinkan pengunjung memotret produk tanpa membeli. Saya puas-puasin menikmati hasil kreasi yang entah kapan bisa saya tiru dan bikin sendiri.

Lalu apa yang saya bawa sebagai oleh-oleh?  Sedikit untuk ukuran orang yang  pulang dari pelesir apalagi luar negeri.  Saya cuma beli gelang,  dompet,  tas dan tempat surat.

Udah, itu aja. Sebab yang utama dari perjalanan adalah pelajaran apa yang kita dapat selama menempuhnya.

Jadi,  jangan jadikan ketiadaan budget untuk belanja oleh-oleh sebagai penghambat langkah bepergian ^_^

#GongTraveling #Bangkok #Thailand #TravelerWife #travel #XploreBangkok

Rabu, 08 April 2015

Main-main ke Chattuchak

Alhamdulillah sempat juga main ke sini. Soalnya cuma buka weekend. Senang bisa kesampaian berkunjung.  Segitu pentingnya tempat ini?

Kalau kalian pemburu produk massal khas Bangkok yang murah-meriah,  di sini tempatnya. Tapi kalau cari yang handmade dan edisi terbatas,  beberapa toko di Khaosan Road menyediakannya. 

Dari harga jelas beda jauh dong,  karena kualitas dan nilai juga beda.  Di Khaosan saya naksir rok celana handmade,  tapi mundur teratur saat harga tidak bisa kurang dari 800 THB.  Kalikan dengan Rp 525,- kurs hari itu.  Uang Baht bekal saya terbatas,  dan harus sedia dana untuk sisa-sisa hari :-D

Selama di Bangkok,  jajanan yang saya beli kebanyakan berupa buah-buahan,  baik segar atau bentuk shake/juice. Harganya berkisar 20-40 Baht. Contohnya di Chattuchak ini,  belum juga masuk pasar,  saya sudah mampir di warung kakak tomboy yang di foto itu :)

Untunglah dia dapat berbahasa Inggris,  dengan ramah dan sabar melayani saya yang ragu memilih sayuran atau buah untuk dibuat shake. Akhirnya saya putuskan shake dari daun mint dan batang seledri besar. Hubby udah mengernyitkan dahi membayangkan rasanya.

Si penjual meyakinkan saya rasanya tidak akan pahit,  karena dicampur air jeruk nipis dan gula. Saya pun setuju.  Tapi di tengah pembuatan saya minta ditambah nanas. Untunglah boleh. Tapi nanasnya masih mengandung banyak mata :(

Setelah dicicipi,  ternyata enak juga!  Hubby ikut minum dan setuju tak ada rasa pahit sedikitpun. Setengah gelas habis,  muncul rasa gatal di tenggorokan,  mungkin karena mata nanas tidak dibuang.  Tapi sayang kalau dibuang,  jadi kuhabiskan saja shake itu.

Kalau punya waktu panjang,  mampirlah ke Chattuchak weekend market. Kalau toh nggak  belanja,  kita bisa lihat ragam suvenir yang mungkin bisa kita bikin sendiri di rumah.  Buat saya main ke Chattuchak jadi nambah ide kreatif untuk bikin prakarya ^_^

Tao Rai Kha?

Salah satu yang menarik dari tempat asing adalah bahasa lokal.  Apalagi yang hurufnya non alfabet. Bentuk yang sederhana hingga yang ruwet. Semampu saya bahasa lokal harus dimengerti,  minimal yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Sebelum berangkat trip #XploreBangkok bersama #GongTraveling saya browsing bahasa Thailand. Sekilas mirip Huruf Palawa dalam Bahasa Jawa yang memuat hanacaraka datasawala padajayanya magabathanga. Tapi ternyata berlainan sekali! 

Ada banyak konsonan,  vokal dan tanda irama yang menentukan arti kata dalam Bahasa Thailand. Buat saya sangat menarik untuk dipahami meski hanya beberapa frasa.  Dengan cara itu saya bisa SKSD (sok kenal sok dekat) dengan penduduk lokal.

Mayoritas penunjuk jalan memang ditulis dalam Bahasa Thai,  tapi dengan merujuk ke tourist map insyaa Allah tak akan bingung. Peta khusus turis ditulis dalam Bahasa Inggris,  sedikit sekali mengandung Bahasa Thai. Hanya,  masalah biasanya terletak pada penduduk yang kebanyakan tidak mengerti bahasa asing.

Hari pertama di Bangkok saya mengandalkan kamus Bahasa Thai yang beberapa kalimatnya  saya simpan. Termasuk cara pengucapan.  Tinggal klik audio mode,  lalu dengar dan tirukan.  Berhubung belum ada koneksi internet,  jadi hanya kalimat yang sempat tersimpan yang dapat saya gunakan. Untuk kata-kata lain memang perlu koneksi internet.

Menyenangkan melakukannya,  bercakap dalam bahasa lokal. Salah satunya saat saya membujuk hubby untuk mengucapkan:
ผมมาจากประเทศอินโดนีเซีย.

Cara membacanya: phm ma cak prathes xindoniseiy.  Semacam itulah.  Artinya : saya berasal dari Indonesia.

Hubby  menyukai ide saya dan langsung memraktikkan kalimat itu kepada penumpang di seberang kursi. Dua perempuan dan seorang lelaki paruh baya tersenyum mendengarnya. Dari raut wajahnya mereka suka karena bahasa lokal digunakan orang asing.

Sedangkan saya sendiri lebih sering menggunakan 'tao rai kha?' saat ingin tahu harga sebuah barang.  Respon yang saya dapat adalah senyum ramah dan jawaban dalam Bahasa Thailand. Jika saya masih bengong sambil mengingat urutan bilangan Thai,  para pedagang akan memberitahu dalam Bahasa Inggris.  Jika mereka tak mampu,  bahasa isyarat jari adalah langkah jitu.

Jawaban berbeda saya terima saat tertarik sebuah tas etnik ukuran kecil.  'Tao rai kha' yang saya katakan dijawab cowok penjaga toko tas,  "Siratus duha pulu ribu saja."

Hahaha ^_^

Dompet Silinder Sang Kondektur

#GongTraveling #XploreBangkok

Saat hendak kembali ke hotel,  kami memutuskan naik bus ini. Karena peserta sudah kelelahan setelah jalan-jalan mengunjungi Grand Palace dan menyusuri Chao Phraya.

Agak surprais juga melihat kondektur ibu-ibu seperti beliau ini. Begitu sigap dan tegas. Piranti khas yang dibawa adalah tabung silinder yang dibelah dua,  satu sisi dipasang engsel.

Jadi ketika dibuka,  ada sekat-sekat dalam tabung yang menjadi wadah beragam satuan koin Thailand Baht (THB). Yang berupa lembaran nilai  20 THB ke atas disimpan di saku. Satu sekat dipasang poros kecil untuk gulungan tiket.

Ketika ada penumpang baru,  tak perlulah ia berkata-kata,  cukup gerakkan tabung yang berisi koin.  Crek,  crek,  crek!

Dari Grand Palace ke halte Sanam Luang ongkosnya 6,5 THB. Jadi seringkali memerlukan receh sebagai kembalian. Dan tiap penumpang mendapat tiket ukuran 2x2 CM. Untuk legalitas,  ujung tiket itu dirobek dengan menggunakan sisi tabung sebagai pemotongnya. Potongan kecil kertas jatuh begitu saja. Di lantai bus jadi banyak potongan kecil legalisasi tiket itu.

Crek! Crek! Crek!

Bonus Pertunjukkan Kembang Api

Ini memang nggak bisa dijanjikan di dalam tiap trip  #GongTraveling ^_^
Kembang api ini merupakan bonus saat #XploreBangkok   1-4 April 2015 kemarin bertepatan dengan ultah anak raja. Jadilah kami menikmati suguhan warna-warna dan suara ledakan di langit,  sambil duduk di depan hotel.
Jangan minta saya cari angle tanpa kabel listrik,  lampu taman dan neon box hotel. Itu artinya harus ke tengah jalan depan hotel dengan lalu lintas padat kendaraan ^_^

Kamis, 12 Februari 2015

BADUY 1 : HATI YANG TEROMBANG-AMBING


Sejak awal aku tahu ini akan jadi perjalanan berat. Lebih berat daripada trip tahun 2012 bareng suami. Destinasi ini masih seprovinsi. Hanya dipisahkan bukit-bukit dan gunung. Jalanannya tanah, batu dan sungai. Tanah jadi lumpur jika hujan, dan rezekiku menemuinya sepanjang jalan.


H-7

Seminggu sebelum berangkat aku masih bimbang. Tiga gigiku sakit bersamaan, mata kaki kananku baru sembuh dari bengkak. Sendi kaki kiri belum fit sempurna dari salah urat. Ditambah ketidakpastian izin suami. Ia masih tarik-ulur dengan berbagai alibi. Anak-anak kami yang masih SD pasti keberatan, cuaca hujan dan Baduy tengah menjalani ritual hari raya Kawalu.

Selasa, 20 Januari 2015

BALI SENDIRI 4 (Tamat)



Maaf bagi yang menanti kelanjutan episode Bali Sendiri^^ Baiklah, kita tamatkan saja seri ini di bagian keempat ^^

Patung Wisnu
 Dari Bukit Sari agrotourism kami bergerak ke Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park yang berada di jalan Raya Uluwatu, Ungasan, Kuta Selatan. Jika dilihat di maketnya, patung Wisnu tengah mengendarai Burung Garuda ini bakal jadi ikon Bali sekaligus membawa nama Indonesia lebih melambung. Sayang, proyek prestisius ini tertunda. GWK ini adalah mahakarya I Nyoman Nuarta, seorang seniman patung terkenal Indonesia. Karya lain beliau adalah Monuman Jalesveva Jayamahe di Surabaya.

Kamis, 08 Januari 2015

BALI SENDIRI 3


Laskar Kuta Bersih
Hari ketiga di Bali. Pagi-pagi udah nongkrong lagi di Kuta. Kerjaanku sama bu Lidia cuma ngelihatin kelakuan orang-orang. Kadang ada sesuatu yang bikin kami tertawa ngikik berdua, lalu diam lagi dan melihat sekitar.

Benar-benar kurang kerjaan. Tapi tugas hari ini sudah diselesaikan kemarin, tinggal malam nanti penutupan. Jadi kami punya waktu seharian sampai maghrib. Aku udah gatal pengin jalan. Tapi lagi mikir tujuan, cara ke sana dan biaya. Kubilang ke Bu Lidia rencana jalan ini, untung beliau mau juga ikutan. Tinggal nanti ajak-ajak peserta lain. Kalau toh pada nggak mau, aku mau jalan aja sendiri.

Sekarang ngabisin pagi dulu di pantai. Ada serombongan cewek yang hobi selfie sedari datang. Mulai foto di pantai, pose loncat, gaya manyun, sampai nyebur ke laut, semua difoto. Kami senyum aja lihat ulah mereka. Mencoba memaklumi karena aku dan bu Lidia punya anak gadis, yang mungkin tingkahnya kayak rombongan cewek itu.

Ada serombongan petugas kebersihan yang membawa sapu dengan ujung mirip garpu, untuk menyaring sampah di pantai, jadi pasirnya nggak ikut terbuang. Mereka inilah yang menjaga Kuta tetap bersih. Bravo!