Jumat, 18 April 2014

Di Siak Bersama Suka Cita

Istana Siak
Seperti biasa saat bepergian, pagi hari adalah acara jalan-jalan menikmati suasana baru. Biasanya yang dituju adalah pasar tradisional. Lalu sarapan di sana, ngobrol dengan masyarakat sekitar.
Pagi hari kedua pun kami rencanakan begitu. Acara di Kantor Perpustakaan Siak dimulai pukul 8. Masih ada waktu 2 jam untuk keluyuran sebentar.

Kami pun keluar hotel Grand Royal, berbelok ke kiri. Melewati SMK 1 Siak. Terus saja berjalan di jalan mulus mirip boulevard. Tapi dipikir-pikir jauh juga jika ditempuh dengan jalan kaki! Pasar yang dituju masih berupa titik nun jauh di sana!

Sayangnya lagi tak banyak transportasi umum, dan tak ada becak yang melewati depan hotel! Waduh, bisa habis waktu kalau begini! Akhirnya kami mengurungkan niat jalan pagi.

Memberi sambutan yang memotivasi.
Pukul 8 kami dijemput utusan dr KPA Siak, lalu bergabung dengan hadirin yang telah menempati kursi dalam tenda-tenda. Kami bertemu juga dengan Kak Bimo, pendongeng dari Yogya. Berdiskusi dengan beliau amat menyenangkan, banyak ilmu dan informasi mengenai mendongeng yang didapat.
Setelah melalui serangkaian sambutan, Wakil Bupati Siak mewakili Bupati Siak membuka acara Jambore Perpustakaan Desa. Saat berbincang singkat, ternyata Wabup Siak H Alfedri memiliki putra yang tengah menuntut ilmu di Pondok Pesantren di Cinangka, Cilegon. Kami lalu memersilakan beliau mampir ke Rumah Dunia jika sedang menengok putra.
GG bersama Kak Bimo, pendongeng dari Yogya.


Aku sendiri duduk di deretan kanan, di sebelah istri Sekretaris Daerah dan istri Bupati Siak Hj Masniarni Syamsuar. Pak Bupati sendiri sedang ada rapat di provinsi, sehingga tidak dapat hadir.
Di deretan belakang kami adalah para lurah se-Kabupaten Siak di mana perpustakaan desa berlokasi. Kami merasa tak sia-sia hadir di situ, di antara mereka yang menggerakkan literasi dari berbagai sudut kampung.

Selesai acara seremoni, kami menemui 500 anak remaja dan memotivasi mereka dalam menulis. Sebagaimana tipikal masyarakat daerah yang biasanya malu untuk tampil bicara di depan audiens, mas Gong memutuskan untuk menjadikan buku-buku sebagai iming-iming.

Ternyata remaja-remaja itu antusias, dan mereka berani maju secara berkelompok untuk memerankan sepotong adegan. Juga beberapa remaja yang berani maju untuk menyatakan pendapatnya. Salut!

Workshop menulis bersama English Fun Club

Sorenya kami bertemu dengan 50 orang anggota English Fans Club asuhan pak Abdul, salah seorang pegiat literasi di Kabupaten Siak. Anggota yang rentang usianya remaja-dewasa ini belajar cara menulis fiksi. Hal yang perlu dilakukan adalah membongkar ide mereka yang selama ini tersumbat.

Di sinilah ajaibnya, beragam ide cerita muncul dari otak mereka. Begitu pula ilustrasinya, meski beberapa orang merasa tak mampu menggambar dengan baik, tapi kami pacu mereka untuk melakukan sesuai kemampuan. Berharap ini menjadi letik api semangat untuk terus menulis, dan juga membaca.

Malamnya, kami dinner di Turap, tepi Sungai Siak. Menikmati ikan patin bakar dan kelapa muda. Juga kapal tongkang yang melewati  sungai di kegelapan malam. Kayu-kayu hasil tebangan yang diangkutnya rebah dalam sunyi. Aku masih memikirkan, berapa banyak hutan berkorban untuk kepentingan industri. Ah, kadang otak ini tak menurut untuk larut dalam suka cita, selalu ada pertanyaan-pertanyaan yang menyilang atau berseberangan...






@tiastatanka










11 komentar:

  1. Itulah serunya sebuah perjalanan ya mbak, ada suka cita, ada ledakan emosi, ada renungan dan mungkin saja sebuah kesediahan dan secercah harap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyap mba, tiap perjalanan adalah istimewa:)

      Hapus
  2. anak2 di manapun jika disupport dan ada fasilitas pasti punya semangat buat maju ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba Monda, anak-anak ini perlu pemantik agar semangatnya berkobar :)

      Hapus
  3. Balasan
    1. ikonnya kok kayak tweety imut gitu ya In? hihihi

      Hapus
  4. Terima kasih sudah sharing, Mbak Tias :D

    BalasHapus
  5. selalu saja ada kesan yg tertinggal,selalu saja ada pesan yg ditinggalkan. dalam setiap perjumpaan,dalam setiap perpisahan. kita hanya bisa berharap,semoga apa saja yg akan dan telah kita lakukan dapat menambah kebaikan pada kehidupan...

    BalasHapus
  6. hickz,kenapa baru kenal mbk tyas ya pas meninggalkan Siak huhuhu....terus,kapan ke siak lagi mbk???^^

    BalasHapus