Jumat, 10 April 2015

Jalan-jalan Tidak Harus Belanja

Seringkali saat kita bepergian ada banyak titipan permintaan oleh-oleh.  Bahkan ada yang menitipkan uang lebih dulu.  Acap kali hal ini jadi pertimbangan seseorang menunda bepergian hanya karena alasan tak memilki cukup uang untuk membeli oleh-oleh.

Buat saya pribadi,  oleh-oleh menjadi urutan ke sekian dari prioritas.  Pertama terkait ketersediaan uang,  kedua estimasi waktu,  ketiga bagasi,  keempat destinasi.  Kadang kala budget oleh-oleh menjadi yang paling akhir dipikirkan alias sisa bekal.

Biaya memang harus jadi hal penting yang harus dipikirkan dalam tiap perjalanan,  ke mana pun tujuannya. Tiket,  hotel,  makan dan transpor selama di lokasi harus tercukupi.  Di antara empat hal ini yang dapat diakali selama di lokasi adalah biaya makan.

Selama makan bukan di restauran mahal,  insyaa Allah uang cukup. Atau jika pergi bersama pasangan atau teman,  cobalah untuk sharing makan. Di beberapa negara menyediakan porsi besar,  cukup untuk makan sepiring berdua. Kecuali kalian gembul ^_^

Dengan memperhitungkan biaya makan inilah saya dan suami bisa menyisihkan dana untuk oleh-oleh. Tentunya tidak perlu diirit-irit ya :) Prinsipnya makan senang dan halal.

Soal waktu juga sering menjadi kendala berburu oleh-oleh.  Biasanya jadwal sudah tersusun dari pagi sampai malam. Jika sepanjang rute itu ada benda menarik,  saya akan tanya harga.  Target membeli,  seperti yang saya tulis,  melihat sisa uang. Paling tidak saya tahu harganya.

Biasanya saat bepergian dengan pesawat saya ambil non bagasi.  Otomatis saya harus menjaga agar barang yang saya bawa pulang tidak melebihi berat maksimum. Jika melebihi, risiko membayar harga per kilogram bagasi. Coba kalau uang sudah tinggal sisa,  mau bayar pakai apa coba?

Di tempat tujuan wisata seringkali sudah tersedia toko-toko yang menjual suvenir khas daerah tersebut.  Saran saya,  jangan terpengaruh untuk langsung membeli oleh-oleh yang bukan menjadi ciri khas tujuan wisata tersebut. Ada banyak jenis suvenir yang dijual di hampir semua toko cindera mata karena dibuat massal. Tapi ada yang benar-benar khas daerah tersebut yang sulit ditemui di tempat lain.

Meskipun membatasi diri belanja oleh-oleh,  saya tak pernah menahan diri jalan-jalan di pusat perbelanjaan tradisional atau modern. Itu olahraga bagi mata dan otak saya,  memberi stimulus bagi daya kreatif saya. 

Seperti saat di Chattuchak,  saya lebih banyak mengingat-ingat model dan bahan beragam suvenir.  Inj karena kebanyakan pedagang tidak mengizinkan pengunjung memotret produk tanpa membeli. Saya puas-puasin menikmati hasil kreasi yang entah kapan bisa saya tiru dan bikin sendiri.

Lalu apa yang saya bawa sebagai oleh-oleh?  Sedikit untuk ukuran orang yang  pulang dari pelesir apalagi luar negeri.  Saya cuma beli gelang,  dompet,  tas dan tempat surat.

Udah, itu aja. Sebab yang utama dari perjalanan adalah pelajaran apa yang kita dapat selama menempuhnya.

Jadi,  jangan jadikan ketiadaan budget untuk belanja oleh-oleh sebagai penghambat langkah bepergian ^_^

#GongTraveling #Bangkok #Thailand #TravelerWife #travel #XploreBangkok

5 komentar:

  1. aku ngga bisa kalap di chatuchak mba tias, bathku enteeek..huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Dedew, aku pun cuma bawa duit dikit. Takut kalap ^_^ hahaha

      Hapus
  2. jalan-jalan hanya untuk memanjakan wanita *eh mata hehehe

    BalasHapus
  3. Sama dgn prinsipku, mbak Tias 😊 oleh2 bukan yg utama

    BalasHapus