Sabtu, 23 September 2017

Generasi Jaguar (2) Rute Angka Delapan

         Setelah berdiskusi dengan suami perihal deskripsi Generasi Jaguar, gantian saya presentasi di depan anak-anak. Termasuk memotivasi mereka untuk tampil bersama kami. Meski hasilnya tidak mengubah sikap anak-anak yang menolak tampil, saya tidak mempermasalahkan. Mereka harus tahu bahwa orang tuanya kompak, dan berniat mengajak kepada hal-hal baik dan maju.
            “Kalian punya potensi dan bakat. Sayang jika tidak dikembangkan dan diasah. Toh sepanjang perjalanan nanti kalian tampil di hadapan orang asing, yang kalian tidak kenal. Setelah tampil pun mungkin nggak ketemu lagi. Jadi tidak ada alasan untuk malu,” kompor saya berapi-api.
            Tapi anak-anak tetap pada pendiriannya. Semua memilih membantu di belakang layar. Baiklah, kami tak memaksa.
            Jadilah kami putuskan traveling selama 30 hari sekaligus pelatihan menulis di beberapa kota sepanjang Serang-Solo pulang-pergi. Anak-anak setuju dengan syarat berangkat setelah lebaran. Kami mulai berbagi tugas. Suami menyusun agenda, menghubungi teman-teman penggiat literasi dan kepenulisan, menawarkan pelatihan yang dibutuhkan komunitas mereka, menyiapkan buku-buku yang hendak dijual. Saya kebagian tugas menyiapkan mental anak-anak untuk bepergian bersama dalam waktu lama. Juga memotivasi mereka untuk melakukan apa saja yang mereka sanggup untuk kegiatan ini.

            Hari-hari bergulir dengan cepat. Sosialisasi kegiatan ini di sosial media menuai banyak hal positif dan negatif. Syukurlah kami terbiasa berkonsentrasi pada hal-hal positif saja. Yang negatif cukup untuk introspeksi. Itu juga yang kami tanamkan ke anak-anak, ketika teman-temannya bilang kami mengekor Gen Halilintar. Saya menunjukkan perbedaan mendasar kegiatan kami. Akhirnya, keraguan itu hilang seiring energi positif yang terus-menerus kami sebar.
            Kami mulai berhitung perbekalan makanan, uang, baju dan buku. Hari-hari dilewati dengan bersiap, merevisi presentasi, menyiapkan performance, termasuk berlatih. Kendati saya sendiri pun tak yakin apakah pertunjukan kami akan memuaskan atau malah memalukan. Jika sampai gagal pun, saya sudah berjanji pada diri sendiri tetap akan memihak anak-anak dan suami. Hasil pertunjukan bukan yang utama, tapi proses yang kami lewati inilah yang maha penting.
            Saya membuat peta perjalanan berdasar atlas usang yang kami punya. Kertas HVS saya sambung-sambung agar memuat titik-titik kota yang kami akan kunjungi di sepanjang Pulau Jawa. Saya tepekur menyaksikan titik-titik itu berbentuk mirip angka delapan mendatar, atau simbol tak terhingga. Diam-diam saya istighfar dan mohon perlindungan-Nya, semoga ini bukan pertanda buruk. Yang saya yakini adalah Ia memberi pertanda bahwa kuasa-Nya tak terhingga, sebagaimana simbol yang terbentuk. Wallahu a’lam bishshawab. Seharusnya saya husnudzon kepada-Nya atas semua takdir yang akan terjadi. Perjalanan ini berdasar niat baik, insyaa Allah akan berujung baik.

            Di meja makan kami pun membahas ini dan saling menguatkan, meyakinkan niat baik kami. Sementara itu titik-titik kota kegiatan semakin bertambah mendekati hari keberangkatan. Mungkin teman-teman penggiat literasi baru paham bahwa kegiatan kami serius.
            Sederet nama tokoh akan kami temui, info ini kami teruskan ke anak-anak disertai penjelasan mengenai prestasi dan dedikasi mereka terhadap kegiatan keaksaraan yang sudah terbukti. Mereka akan menjadi tokoh teladan bagi anak-anak di bidangnya masing-masing.
            Menyiapkan ini semua membuat kami satu sama lain berusaha bekerja sama dengan  baik, menyelesaikan tugas yang diampu dengan tanggung jawab. Banyak hal di luar pekerjaan yang menuntut perhatian, seperti berapa banyak baju harus dibawa, barang apa saja perlu dibawa, di mana akan mencuci baju selama perjalanan, perhitungan biaya makan, berapa liter pertamax dibutuhkan, perlukah memasak sendiri karena menurut perhitungan saya akan menghemat biaya. Begitu juga kewajiban untuk Rumah Dunia harus didelegasikan ke relawan, urusan bisnis kafe yang sedang menurun, sampai mengatur jadwal belajar anak-anak yang mulai homeschooling.

            Begitu banyak harus dipikirkan. Syukurlah saya memiliki tim solid yang bersedia meringankan beban setiap saya butuhkan. Tim ini adalah keluarga. Termasuk si sulung yang ribuan mil jaraknya, memberi dukungan dan doa bagi kami. Juga ibu dan emak mertua, bagaimana cemasnya pun tetap mendoakan dan memberi restu bagi langkah ini. Bismillah. (Bersambung)

2 komentar:

  1. Hahahaha...jadi inget kalo ngomporin anak murid supaya berani tampil. Jangan malu-malu. Seperjuangan itu.

    BalasHapus