Sabtu, 30 September 2017

Generasi Jaguar (6) Pagi Selalu Istimewa

Pagi hari di Cirebon, kami masih punya waktu sampai pukul 10.00 untuk jalan-jalan. Berhubung anak-anak masih ingin santai di hotel, cuma saya, suami dan si bungsu yang berniat jalan pagi.
            Menjadi kebiasaan suami untuk mendatangi public area  di tempat baru. Di sanalah napas kebudayaan sebuah pemukiman. Tidak ada yang menemani pun beliau akan jalan sendiri.
“Pagi hari di tempat baru sangat istimewa,” katanya suatu kali saya malas menemani. Soalnya sudah biasa menghadapi yang begini. Hahaha.

“Belum tentu pagi sama akan kita temui bahkan di detik yang tepat, lokasi yang persis,” begitu rayunya kalau saya malas jalan.  Jadi tidak ada alasan untuk tidak beranjak. Lagipula selalu ada manfaat di setiap peristiwa yang dijumpai.
Kami pun menyusuri jalan ke stasiun, tempat sama kami sambangi sore sebelumnya. Suasana pagi memang sangat dinamis. Banyak orang bergegas dan bersiap mencari rezeki, menjalankan fitrah-Nya dengan bertebaran di muka bumi dan berusaha menjalani hidup. Coba kalau semua manusia malas, tidak ada yang mau bekerja keras memasak untuk menyediakan sarapan, misalnya. Wuih, mau makan apa manusia nanti? Beras mentah? Atau malah padi?
Saat hendak masuk hotel, saya tertarik dengan pedagang serabi di seberang hotel. Suami menyilakan saya dan si bungsu untuk membeli serabi sebiji dua.
“Jualan apa, bu?” Azka mulai ingin tahu. Ia langsung jongkok di depan tungku si ibu penjual. “Hangat, Mamah…” tangannya dijulurkan di atas barisan tungku.
“Serabi,” jawab si ibu lirih sambil terus mengaduk adonan. Dengan hati dituangkannya adonan di atas wajan kecil terbuat dari tanah liat. Api dalam tungku di bawah wajan membuat permukaan adonan meletup-letup kecil.
“Itu apa?” Azka menunjuk sesendok adonan warna coklat berkuah minyak yang diletakkan si ibu di atas serabi setengah matang tadi.
“Ini oncom, buat atasnya,” jawab si ibu dengan sabar. Tangan keriputnya mengipasi tungku. Asap yang menyerbu wajahnya tidak dihiraukan. Azka agak mundur menghindari letikan bara yang terbang dan hilang tergerus udara.
“Aku tahunya serabi yang diatasnya dikasih coklat atau nangka, kayak di Solo,” Azka menepis setitik bara yang terbang.
            “Awas, Neng. Hati-hati,” ibu itu membuka wajan kosong dan menuang adonan dasar. Ditutupnya wajan sebentar, lalu memeriksa wajan lain berisi adonan yang hampir masak. Ada dua orang pembeli yang sudah mengantri lebih dulu. Kami tahu diri untuk menunggu, lumayan sambil melatih Azka mewawancara.
            “Kalau ini serabinya dikasih oncom, sama ada yang pakai telur, orek tempe dan gula merah,” si ibu mengambil sebutir telur ayam ukuran kecil. Diketuknya telur ke tepi wajan lalu dengan cepat di pecahkan tepat di atas adonan setengah matang. Wah, bentuk serabinya jadi indah! Sebentar kemudian wajan itu ditutup.
            “Itu dikasih gula merah, kan? Aku mau yang itu,” Azka menunjuk serabi bertitik-titik merah yang baru diangkat.
            “Boleh, tapi itu sudah dipesan orang. Jadi tunggu, ya!” saya mulai melihat si bungsu tidak sabar. “Mau beli yang rasa apa?”
            “Gula merah, satu saja. Beliin buat Aa-aa, Mah.”
            “Serabi gula merah tiga, Bu.”
            Si ibu mengangguk sambil membungkus serabi yang telah siap untuk pembeli yang telah menunggu. Kemudian dengan sigap dibersihkannya wajan-wajan dari sisa-sisa serabi. Setelah dipanaskan di atas tungku, adonan kembali dituang. Begitu hikmat dan serius.
            “Ibu sudah lama berjualan serabi?”  saya duduk berjongkok.
            “Sudah tujuh belas tahun,” jawab si ibu.
            “Wah, lama banget, Mah! Seumuran Aa..” potong Azka serius. Saya mengangguk. “Ibu, ibu namanya siapa?”
            “Ibu namanya bu Nasriyah,” bu Nasriyah ini mungkin suaranya lirih dari sananya, jadi harus saksama mendengarkan jawabannya.
            “Serabi telornya dijual berapa, Bu? Yang gula merah berapa, yang oncom berapa..” si bungsu tampaknya sudah tidak sabar. Cuaca mulai gerah. Pesanan kami siap dibungkus.
            “Yang telor tujuh ribu lima ratus, oncom tiga ribu, gula merah duaribu lima ratus.”
            “Bu Nasriyah bikin serabi ini pakai campuran tepung terigu, atau cuma tepung beras?” saya masih ingin tahu.
            “Nggak pakai campuran, semua asli tepung beras, santan, sama parutan kelapa halus,” jawabnya tegas, masih dengan suara lirih.
            Kami pamit setelah membayar dengan lebih sedikit. Anggap saja untuk pengganti waktunya diganggu pertanyaan kami. Kebetulan suami sudah datang dari kegiatan potret-memotret sementara kami beli serabi.
            Pukul 10.30 kami berencana meneruskan perjalanan. Tapi di kamar, saya masygul. Duduk di tepi ranjang sambil menatap barang-barang masih berantakan. Anak-anak masih malas-malasan sambil pegang ponsel. Televisi menayangkan berita tanpa ada yang menonton.
            “Sabar, Mah,” suami berbisik dan merangkul saya. “Masih adaptasi. Mereka masih melihat betapa jauh perjalanan nanti. Kita santai aja, ya? Mamah juga harus santai, perjalanan  juga baru dimulai. Jangan membebani dengan aturan-aturan berat dan kurang perlu. Soal berantakan barang, ya nanti packing lagi. Kecuali buat sholat, harus tegas.”
            Saya menarik napas dan berusaha tenang. Mungkin cara saya yang harus diubah. Pendekatan persuasif adalah tindakan yang cocok untuk traveling panjang begini. Baiklah. Standar kesempurnaan harus diturunkan ke level santai, tapi level perasaan bahagia harus meningkat.
            Perjalanan baru dimulai, kalau melihat jarak, baru menginjak 2/37. Sanggupkah anak-anak melakoninya? Sanggupkah saya? Kalau suami sih seneng-seneng saja, sudah sekian kali melakukan perjalanan literasi. Bahkan yang lebih lama dari rencana ini. Tapi buat kami, kalau lelah bagaimana?
            “Kalau kalian capek, ya nggak apa-apa pulang ke Serang. Tapi Papah akan meneruskan rencana ini,” suami menganggukkan kepala meyakinkan saya. Saya menggeleng.
            Bagaimana saya bisa tega membiarkannya menyelesaikan pekerjaan besar sendirian? (Bersambung)


1 komentar: